Senin, 12 November 2012

MEMAHAMI REMAJA



MEMAHAMI REMAJA
Memahami remaja bukanlah hal yang mudah dan yang sulit namun yang pasti bisa ditolong. Jika kita berkeiginan untuk molong remaja maka hal yang pertama dilakukan adalah memahami remaja itu sendiri.

Pengertian Remaja
Istilah remaja dengan sepintas dapat dimengerti dengan mudah yaitu sebagai masa periode transisi antara masa anak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun jika seseorang menunjukan tingkahlaku tertentu.[1] Tetapi untuk mendapatkan pengertian yang jelas dan pasti tentang remaja tidaklah mudah kerena berbagai faktor usia, sosial, budaya dan agama.
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.[2] Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Menurut Calon bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.[3]
Remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial di usia 10-22 tahun.[4] Anak tersebut akan mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Masa remaja sebagai masa yang istimewa dan sebuah masa salah paham antara remaja sendiri dan masyarakat. Banyak orang tua yang menganggap bahwa anak remajanya sedang menghadapi puncak dari serangan dan godaan lingkungan. Padahal masa remaja hanyalah merupakan salah satu babak dalam belajar berdiri atas dasar yang benar di tengah lingkungan.[5]
Remaja adalah masa yang paling indah dimana menjadi masa untuk mengetahui banyak hal, liku-liku kehidupan manusia setelah meninggalkan masa kanak-kanak.[6] Di masa remaja, anak menjalani suatu tingkat umur, di mana anak tidak lagi anak-anak tetapi belum bisa dipandang dewasa. Masa remaja adalah umur yang menjembatani antara anak-anak dan dewasa. Di masa remajalah seorang anak banyak perubahan yang tidak akan mudah dihadapi oleh remaja sendiri tanpa bantuan dari orang lain.

Batasan-batasan Usia Remaja
Dalam memberikan batasan usia remaja masih mengalami hal yang sama dengan memberikan pengertian remaja sehingga mengenai batasan umur, para ahli belum mempunyai kata sepakat yang jelas dapat disetujui bersama.
Sarlito W. Sarwono, dalam bukunya Psikologi Remaja memberikan batas usia remaja di masyarakat Indonesia pada usia 11 tahun sampai dengan usia 24 tahun. Sarlito memberikan batasan usia 11 -24 tahun dan belum menikah yang menjadi usia ramaja dengan pertimbangan
Usia 11 tahun adalah usia ketika pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik), usia 11 tahun sudah dianggab akil balig, baik menurut adat maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan sebagai anak-anak (kriteria sosial), pada usia 11 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa, batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal karena belum bisa memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikologis. Golongan usia 24 tahun masih banyak di Indonesia terutama dikalangan masyarakat menengah ke atas yang mempersyaratkan berbagai hal untuk mencapai kedewasaan.[7]

Menurut Andi Mappiare dalam buku Psikologi Remaja memberikan usia masa remaja berlangsung antara usia 12 tahun sampai dengan usia 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Jika dibagi dalam remaja awal dan remaja akhir maka remaja awal berada dalam usia 12/13-17/18 tahun, dan remaja akhir usia 17/18-21/22 tahun.[8]
Erik Erikson memberikan masa remaja berlangsung antara usia 10-20 tahun, dimana individu diharapkan menemukan siapa remaja, remaja sebetulnya seperti apa, dan kemana remaja menuju akan hidupnya.[9] Remplein memberikan batasan remaja pada usia 11-21 tahun.[10]
Pada umumnya pengelompokan tahapan perkembangan adalah 12-14 tahun disebut remaja awal, 15-17 tahun disebut remaja, 18-21 tahun disebut remaja lanjut.[11] Meskipun belum ada kesepakatan tentang tentang usia berapakah dikatakan seseorang remaja, secara umum situasi di Indonesia, kategori remaja adalah pada usia 12-20 tahun.[12]

Secara  Fisik
Perkambangan fisik remaja yang paling paling banyak perhatian adalah tinggi dan berat badan, pertumbuhan kerangka tubuh, fungsi reprodutif, dan perubahan hormonal.  Dalam pembahasan ini penulis akan membahas perkembangan fisik remaja dalam tinggi badan,  berat badan dan seksulitas.
Secara fisik yaitu tubuh dan jasmani, remaja mengalami pertambahan tinggi badan dan berat badan. Untuk remaja pria kecepatan pertumbuhan dimulai sekitar umur 10.5 tahun sampai 14,5 tahun, setelah itu percepatan pertumbuhan akan berkurang sampai umur 20 tahun, sedangkan pada wanita kecepatan pertumbuhan sudah dimulai umur 8,5 tahun dan 11,5 tahun dan mencapai puncak pada umur 12 tahun.  Setelah itu percepatan pertumbuhan berkurang sehingga berakhir pada umur 15-16 tahun[13].  Batas-batas kecepatan pertumbuhan tinggi badan diatas bersifat tidak mutlak, sebab tinggi badan seseorang dipengaruhi oleh faktor keturunan, makanan dan kasehatan. Sehinga tidak mungkin memberikan kesimpulan akhir untuk ketinggian anak remaja.
Remaja juga mengalami pertambahan berat badan. Bertambahnya berat badan selama remaja tidak hanya disebabkan oleh karena bertambahnya lemak, akan tetapi juga oleh bertambahnya jaringan-jaringan tulang dan otot. Pada laki-laki pada umunya pertambahan berat badan terutama disebabkan oleh makin bertambah kuatnya susunan urat danging. Pada wanita disebabkan oleh bertambahnya jaringan pengikat dibawah kulit (lemak) terutama pada paha, bantat, lengan atas dan dada [14].
Perubahan fisik adalah kematangan pada kelancar kelamin dengan perubahan hormonal serta munculnya tanda-tanda krakteristik seks sekunder yang diikuti pula timbulnya hasrat seksual[15]. Sebagai anak yang berkembang mengalami pergumulan yang panjang menganai dorongan seksual yang meningkat. Pertumbuhan remaja sangat jelas berhubungan dengan meningkatnya dorongan seksual karena adanya pertumbuhan kelanjar-kelanjar seks[16]. Bagi remaja yang baru mengalami kebangkitan seksualitas, biasanya perasaan-perasaan menggejolak itu membingungkan dan mambuatnya frustasi.
Untuk remaja pria kakterteristik kelamin primer adalah alat kelamin yang terdiri dari penis dan buah pelir. Untuk remaja wanita adalah vagina. Untuk remaja pria kakterteristik kelamin sekunder adalah tubuh menjadi lebih jantan, suara lebih besar, tumbuh rambut untuk pertumbuhan kumis, janggut, pada kaki, ketiak dan alat kemauluan dan untuk remaja putri adalah bertambahnya jaringan lemak terutama pada paha, pantat, lengan atas, an dada akan mebentuk tubuhnya dengan membentuk kewanitaan yang khas[17].
Secara Status
Ciri khas remaja adalah menuntut perlakuan yang lebih merdeka dan keiginan untuk mengembangkan identitas dirinya dari masa anak-anak[18]. Remaja sudah berkeiginan untuk  mandiri seperti orang dewasa, dilain pihak remaja harus terus mengikuti kemauan orang tau. Remaja menuntut peran yang lebih besar, diikut sertakan dalam pengambilan keputusan, dihargai, dan  diakui. Remaja berkeiginan bebas dari berbagi bentuk tekanan, bebas dari diskriminasi, bebas mengeluarkan pendapat, bebas  menyatakan diri, dan bebas dari perlakuan tidak adil[19].

Secara Mental
Mental adalah bagian mendasar yang ada dalam diri yang berkaitan dengan kejiwaan, kerohanian, keadaan batin dan pikiran manusia[20]. Mental memiliki peran yang sangat penting dalam diri seseorang termasuk remaja. Seseorang dikatankan berani, tanguh dan kuat kalau mentalnya kuat. Remaja menuntut segala sesuatu diuji oleh pikirannya dan pertimbngannya yang sedang berkembang, namun masih terbatas pengalamannya. Kristik pada masa remaja membawa pada kepada keyakinan dan kehidupan dewasa. Ini juga yang menjadi dasar pemikiran individual karena akal budinya yang sedang berkembang senantiasa menuntut pembuktian.[21]
Mental anak remaja akan mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku. Cara berpikir remaja akan membentuk keparcayan akan diri sendiri dalam melakukan sesuatu. Kepercaaan diri merupakan keyakinan yang berkaitan dengan keberhasilan dalam berprilaku, juga merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi dan menginterpasi kemampuan hingga dalam berperilaku dapat menghasilkan sesuatu yangsesuai dengan harapan[22].
Ciri-ciri mental dalam remaja adalah remaja lebih cenderung merasa obtimis, mandiri, punya ambisi, tidak mementingkan diri sendiri, toleran, tidak berlebihan, dan lebih hati-hati. Mental remaja akan terbentuk beberhasil dengan dukungan prestasi, keberhasilannya melampaui rintangan yang ada, pola asuh yang demokratis, dan penyeratan Tuhan[23].

Secara Emosi
Emosi sangat berhubungan erat dengan segala hal dalam kehidupan manusia termasuk anak remaja. Emosi remaja adalah keadaan batin yang berhubungan dengan marah, takut, cemas, rasa igintahu, iri hati, sedih, kasih sayang, kecewa, benci, kwatir dan gembira.  Pada saat remaja pergejolakan emosi begitu dahsyat, kerena diriringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang berpariasi[24].
Emosi para remaja tidak stabil atau sedang bergejolak, memungkinkan untuk nekat melakukan apa yang dia mau meskipun itu terlalu ekstrim. Terkadang kondisi ini tidak diimbangi dengan sikap tanggung jawab. Para remaja cenderung lari dari permasalahan yang mereka hadapi.
Menurut overstrett ada enam aspek kematangan emosi remaja yaitu sikap untuk belajar, memiliki rasa tangung jawab, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif, kemampuan untuk menjalin hubungan sosial, beralih dari egosentrisme ke sosiosentrisme, dan filsafah hidup yang terintegrasi[25].
Pertama, Sikap untuk belajar: Bersikap terbuka untuk menambah pengetahuan dari pengalaman hidupnya. Artinya individu yang matang emosinya mampu mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya dan pengalaman orang di sekitarnya untuk digunakan dalam menjalani kehidupannya. Kedua, Memiliki rasa tanggung jawab: Dalam mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan berani menanggung resikonya. Individu yang matang tahu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Hal ini berarti bahwa individu yang matang tetap dapat meminta saran atau meniru tingkah laku yang baik dari lingkungannya.
 Ketiga, Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif Artinya adanya kemampuan untuk mengatakan apa yang hendak dikemukakan dan mampu mengatakannya dengan percaya diri, tepat dan peka akan situasi. Keempat, Memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan social: Individu yang matang mampu melihat kebutuhan individu lain dan memberikan potensi dirinya untuk dibagikan pada individu lain yang membutuhkan. Individu yang matang mampu menunjukkan ekspresi cintanya dan mampu menerima cinta dari individu lain.
Kelima, Beralih dari egosentrisme ke sosiosentrisme Artinya individ mampu melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok. Individu mengembangkan hubungan afeksi, saling mendukung, dan bekerja sama. Untuk itu diperlukan adanya empati, sehingga dapat memahami perasaan individu lain.
Keenam, Falsafah hidup yang terintegrasi: Hal ini berhubungan dengan cara berpikir individu yang matang yang bersifat menyeluruh, yaitu memperhatikan fakta-fakta tertentu secara tersendiri dan menggabungkannya untuk melihat arti keseluruhan yang muncul. Dengan demikian, tindakan sekarang dan terencana masa depan dibuat dengan berbagai pertimbangan, didasarkan pada penilaian yang objektif dan terlepas dari prasangka.



Secara Sosial
Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa, pada saat ini kebutuhan remaja telah cukup komleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja cukup luas. Pada masa remaja, anak mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan. Anak remaja akan merasa lega dan senang bila berkumpul dalam satu kelompok dan mempercakapkan segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Remaja mulai meminati pesta dan pertemuan santai, kerena remaja mulai senang berada pada anak-anak lawan jenis[26].
Secara sosial anak remaja mulai menaruh perhatian besar terhadap jenis kelamin lain. Perhatian terhadap lawan jenis mulai tumbuh subur yang nantinya akan menjadi perasaan cinta[27]. Ada getaran-getaran tertentu yang dirasakan bergerak takkala melihat atau berbicara dengan lawan jenis. Timbul rasa mendekati, rasa rindu dan rasa bersama untuk selamanya. Perasaan romantis merupakan hal yang wajar bagi remaja.  Pergaulan sesama teman lawan jenis dirasakan sangat penting, tetapi cukup sulit,  namun remaja juga terselip pikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup. Pergaulan remaja diwujudkan dalam bentuk kelompok-kelompok, naik kelompok besar dan kelompok kecil.
Remaja mulai aktif mengadakan konservasi dan percajkapan-percakapan. Mengadakan konversasi atau percakapan-percakapan merupakan salah satu keaktifan sosial yang sanagt digemari oleh anak remaja. Anak remaja kan merasa lega dan senang bila dapat berkumpul dalam suatu kelompok dan mempercakapkan segala sesuatu yang menarik perhatiannya atau yang menjadi persoalan baginya[28]. Kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Remaja seraing mengalami sikap hubungan sosial yang tertutub sehubungan dengan masalah yang dialaminya[29].

Secara Pendidikan
Masa remaja adalah masa Kritis dalam pencapain prestasi. Tekanan sosial dan akademik memaksa remaja untuk berprestasi dalam cara yang baru. Sanggup tidaknya remaja dalam berprestasi ditentukan oleh faktor psikologis dan motivasi[30]. Dorongan prestasi bisa diperlihatkan anak dan remaja terhadap berbagai kegiatan yakni yang berhubungan dengan pendidikan disekolah, dalam bidang oleh raga, kesenian yang berkaitan khusus dengan bakat dan minat yang secara khusus dimiliki anak.  Motivasi terfokus kepada mengapa seorang bertindak, berfikir, dan mersa dengan cara yang dilakukan, dengan penekanan aktivitasi dan tingkahlaku. Motivasi berprestasi adalah keiginan untuk mencapai standart kesuksesan dan berusaha untuk mencapai kesuksesan itu[31].
Di antara orientasi masa depan yang mulai diperhatikan pada usia remaja, orientasi masa depan remaja akan lebih terfokuskan dalam bidang pendidikan. Hal ini dinyatakan oleh Eccles, dimana usia remaja merupakan usia kritis karena remaja mulai memikirkan tentang prestasi yang dihasilkannya, dan prestasi ini terkait dengan bidang akademisnya[32]. Suatu prestasi dalam bidang akademis menjadi hal yang serius untuk diperhatikan, bahkan renaja sudah mampu membuat perkiraan kesuksesan dan kegagalan mereka ketika mereka memasuki usia dewasa[33].
Prestasi seorang remaja akan meningkat bila membuat suatu tujuan yang spesifik, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam proses pencapaian tujuan, remaja juga memperhatikan kemajuan yang di capai, dimana remaja diharapkan melakukan evaluasi terhadap tujuan, rencana, serta kemajuan yang telah mereka capai, sehingga dapat dikatakan kalau orientasi masa depan yang dimiliki remaja akan lebih terkait dengan bidang pendidikan.

Secara Kerohanian
Remaja mulai memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan agama yang dipercayai pada masa kanak-kanak. Lambat atau cepat remaja membutuhkan keyakinan agama meskipun ternyata keyakinan pada masa kanak-kanak tidak lagi memuaskan. Kebutuhan remaja akan agama akhirnya membuat remaja tersebut mengembangkan imannya sendiri bukan hanya sekedar meminjam iman dari orang lain[34]. Remaja mulai menilai dan mempertimbangkan hal-hal agama secara kristis. Bayak hal-hal yang dulu remaja percayai ketika anak-anak dengan sungguh-sungguh, pada saat remaja mulai diragukan. Misalnya menganai hal dosa, sorga, neraka. Doa, dan sebaginya[35].
Remaja mulai menaruh minat pada agama antara lain tampak dengan membahas agama, mengikuti pelajaran-pelajaran agama, mengunjungi gereja dan mengikuti berbagai upacara agama[36]. Sementara remaja berada pada tahap perkembangan ini, siap untuk melaukan komitmen yang lebih serius, meskipun keyakinan yang dimilikinya sebelumnya merupakan sesuatu yang membosankan. Remaja berkeiginan yang kuat untuk mengintegrasikan iman kedalam sistem hidupnya dan membuat perjanjian dengan Allah[37]. Penyesuaian diri anak remaja dengan Allah adalah hal terpenting, sebab sikap seorang anak secara rohani sangat mempengaruhi kehidupannya.
Bagi remaja Kristen tidaklah cukup dilihat hanya dari ciri-ciri remaja yang dewasa dalam arti psikologis. Pusat hidup orang kristen adalah Yesus Kristus. Orang yang berpusat pada Kristus ditandai oleh tampaknya nilai-nilai kekristenan dalam dirinya.  Pada usia Remaja Allah dipahami sebagi penegak hukum-hukum alam. Ia dipandang menaruh perhatian terhadap orang-orang dan tidak hanya sekedar menghakimi, remaja menyadari bahwa Allah lebih dari sekedar pengalamn sensorik; perjumpaan dengan Allah bersifat internal dan mental bukan bersifat ekternal. Remaja secara khas merasa tidak layak dihadapan Allah dan mungkin menyadari bahwa ketika Allah tidak adil hal itu karena manusia tidak melihat gambarnya secara utuh[38].
Shelton S.J. dalam bukunya “Adolescent Spirituality Pastoral ministry for High School and College youth” menyebutkan ada tujuh ciri manusia Kristen yang dewasa, yang sudah dapat dihayati pada masa remaja yaitu berpusat pada Kristus, memiliki tanggung jawab sebagai orang Kristen, hidup doa, kepedulian terhadap orang lain, keterbukaan, penerimaan diri, dan kemampuan melihat rahmat Tuhan dalam dirinya[39]. Ketujuh hal diatas perlu dijelaskan sebagai berikut:
 Berpusat pada Kristus: Ciri khas remaja yang dewasa adalah berkembang dan mendalamnya relasi dengan Yesus Kristus. Hubungan pribadi tersebut nampak apabila remaja tersebut mampu menerima Yesus sebagai Tuhan, Pembimbing, dan Sahabat dalam menentukan keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka serta bila menghadapi masalah hidup.
 Tanggungjawab sebagai orang Kristen: Hubungan pribadi dengan Kristus tidak cukup hanya pada pengakuan iman atau kesalehan lahiriah. Tetapi perlu diwujudkan dalam tanggungjawab menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Kristiani dalam hidup sehari-hari, seperti keadilan, kejujuran dan cinta kasih.
 Hidup doa: Kedewasaan kaum muda, yang didasarkan pada pengalaman personal dengan Yesus dan tanggungjawab terhadap nilai-nilai kristiani, akan terdukung dan terpupuk dengan semakin tumbuhnya pengalaman doa dari kaum muda itu sendiri. Dengan pengalaman doa ini kaum muda akan semakin menemukan makna dari kehadiran Yesus dalam hidup mereka. Relasi pribadi ini akan mendorong kaum muda untuk semakin peka dan terbuka terhadap suara Tuhan yang memanggil mereka.
Kepedulian terhadap orang lain: Tumbuhnya relasi personal dengan Yesus, terbentuknya nilai-nilai kristiani, dan pengalaman hidup doa berkaitan erat dengan perkembangan keterbukaan, dan kepedulian terhadap orang lain. Pertemuan dan persatuan dengan Kristus dialami melalui pertemuan dan pelayanan terhadap sesama manusia. Semakin dewasa seseorang, semakin besar perhatian dan semangat pengorbanannya terhadap orang lain.
Keterbukaan: Remaja yang dewasa dicirikan oleh berkembangnya sikap terbuka terhadap orang lain, pengalaman, gagasan-gagasan dan masalah-masalah baru. Mereka melihat bahwa semua hal itu menolong mereka untuk mengenal dan mengerti dirinya sendiri. Selanjutnya, pengenalan diri tersebut akan mendorong seseorang untuk berpikir lebih kritis terhadap dirinya serta mempertanyakan dirinya lebih mendalam tentang arti dan makna hidupnya.
Penerimaan diri: Remaja yang dewasa berkembang juga dalam penerimaan diri. Mereka tahu akan kemampuan-kemampuan dan keterbatasan-keterbatasan dirinya. Pengenalan diri itu membuat mereka bersikap realis dalam melihat masa depan, dan dalam mengungkapkan diri secara benar dan dalam menghadapi tantangan hidup secara seimbang. Remaja yang dewasa juga ditandai oleh perkembangan pengertiaannya bahwa perkembangan pribadi (meliputi segi jasmani, intelektual, emosional, sosial dan spiritual) merupakan proses sepanjang hidup yang menuntut kejujuran dan kerendahan hati, bimbingan dan nasihat dari orang lain.
Kemampuan melihat kasih Tuhan dalam diri: Remaja yang dewasa berkembangnya juga kemampuannya untuk melihat cinta Tuhan sebagai sebuah kasih karunia dalam hidup mereka. Mereka mampu melihat bahwa talenta dan relasi personal yang mereka miliki merupakan kasih karunia Tuhan, bahkan hidup mereka sendiripun adalah kasih karunia dari Tuhan.



Ditulis oleh Supriadi Siburian S.Th


[1]Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja  (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 2.

[2]Santrock, Adolescence,  26.

[4]Santrock, Adolescence, 31.
[5] W. Stanley Heath, Psikologi yang Sebenarnya (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997), 116.

[6]Sari Yuanita, Fonema dan Tantangan Remaja Menjelang Dewasa (Yogyakarta: Brilliant Book, 2011), 10
[7]Sarwono, Psikologi Remaja, 18-19.

[8] Andi Mappiare, Psikologi Remaja  (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), 27.               

[9]Santrock, Adolescence, 49 .

[10]F.J. Monks, A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991), 220.

[11]Singih D. Gunarsa dan Ny. Yulia Singih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak Remaja dan Keluarga  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 128.

[12]Surbakti, Konseling Praktis, 286.
[13]Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa remaja, ( Surabaya: Usaha Nasional, t.t.), 136

[14]Monk, Psikologi Perkembangan , 222
[15]Singgih, 118

[16]Renti Panjaitan, Solusi seks Bebas, (Yogjakarta: Randa’s Family Press, 2007), 8

[17]Y. Bangbang Mulyono, Kenakalan remaja, (Yogjakarta: ANDI Offset, 1986), 13-14.

[18]Elisa, Konseling Praktis,  288
[19]Anton Suban Kleden, Relasi  Orang Tua-Remaja Suatu tantangan, Mawas Diri Agustus 1991, 40

[20]Ach Syaifullah, Tips Bisa Percaya diri, Yogyakarta: Garailmu, 2010), 120

[21]J.Omar Brubaker dan Robert E. Clerk, Memahami sesama Kita, (Malang: Gandum Mas,.. ), 79

[22]Wining rohani, Tibs Hidup enjoy di masa Remaja, (Yogyakarta: Gloria Graffa, 2005), 77.
[23]Ibid.,78

[24]Sari, Fonema dan Tantangan Remaja Menjelang Dewasa , 158

[25] Ibid., 143
[26]Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa remaja, 183.

[27]Mulyono, Kenakalan remaja, 21

[27]Elisa, Konseling Praktis,  288
[28]Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa remaja, 183

[29]Sari, Fonema dan Tantangan Remaja Menjelang Dewasa, 31

[30]Santrock, Adolescence,  473

[31]Ibid., 474

[33]Santrock, Adolescence, 473

[34]Hurlock, Psikologi Perkembangan, 222

[35]Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa remaja, 191  191
[36]Hurlock, Psikologi Perkembangan, 222

[37]Paul D,, Meierd, dan lainnya, Pengantar Psikologi dan Konseling Kristen Jil I, 107

[38]Ibid., 103

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.